Follow Us Now

Sabtu, 28 September 2013

Pembelian (Purchasing)

Pembelian (Purchasing)

 
Istilah purchasing atau pembelian sinonim dengan procurement atau pengadaan barang. Berikut adalah definisi procurement menurut Bodnar dan Hopwood (2001:323), yaitu:“Procurement is the business process of selecting a source, ordering, and acquiring goods or services.” Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti: bahwa pengadaan barang adalah proses bisnis dalam memilih sumber daya-sumber daya, pemesanan dan perolehan barang atau jasa.

Brown dkk. (2001:132) mengatakan bahwa secara umum pembelian bisa didefinisikan sebagai: “managing the inputs into the organization’s transformation (production process).” Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa pembelian merupakan pengelolaan masukan ke dalam proses produksi organisasi.
Berikut adalah pendapat Galloway dkk. (2000:31) mengenai fungsi pembelian, yaitu: “The role of purchasing function is to make materials and parts of the right quality, and quantity available for use by operations at the right time and at the right place.

”Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa peran fungsi pembelian adalah untuk mengadakan material dan part pada kualitas yang tepat dan kuantitas yang tersedia untuk digunakan dalam operasi pada waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Pentingnya fungsi pembelian.

Management audit bisa digunakan untuk mengevaluasi organisasi secara keseluruhan ataupun fungsi tertentu dalam organisasi, untuk menentukan apakah perusahaan sudah memperoleh efisiensi biaya yang maksimum dari yang telah dilaksanakan oleh fungsi tersebut selama ini. Penelitian ini menjadikan fungsi pembelian sebagai sasaran audit.

Fungsi pembelian sering dianggap sebagai bagian yang paling penting dan berpengaruh, bahkan bisa dikatakan sebagian besar proses bisnis berasal dari kegiatan pembelian. Alasan yang sangat fundamental untuk membahas fungsi pembelian ialah karena dalam bidang ini pemborosan mudah terjadi, baik karena perilaku yang disfungsional maupun karena kurangnya pengetahuan dalam berbagai aspek pembelian bahan, sarana, prasarana dan suku cadang yang diperlukan perusahaan.

Pandangan ini menurut Siagian (2001:192) mudah dipahami karena dalam proses produksi perusahaan memerlukan bahan baku. Tidak banyak perusahaan yang menguasai sendiri bahan baku yang diperlukan untuk diolah lebih lanjut menjadi produk jadi, sehingga bisa disimpulkan bahwa tidak ada satupun bentuk atau jenis perusahaan yang tidak terlibat dengan fungsi pembelian.

Pengalaman banyak perusahaan bahwa biaya untuk menghasilkan suatu produk mungkin mencapai sekitar lima puluh persen dari harga jual produk, menjadikan fungsi pembelian sebagai sumber pemborosan apabila tidak diselenggarakan dengan baik dan sumber penghematan yang akan memperbesar laba perusahaan apabila dilakukan dengan teliti dan cermat.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa pembelian merupakan area yang penting yang dikemukakan Brown dkk. (2001:131), yaitu:
  1. Fungsi pembelian memiliki tanggung jawab untuk mengelola masukan perusahaan pada pengiriman, kualitas dan harga yang tepat, yang meliputi bahan baku, jasa dan sub-assemblies untuk keperluan organisasi.
  2. Berbagai penghematan yang berhasil dicapai lewat pembelian secara langsung direfleksikan pada lini dasar organisasi. Dengan kata lain, begitu penghematan harga dibuat, maka akan mempunyai pengaruh yang langsung terhadap struktur biaya perusahaan. Sehingga sering dikatakan bahwa penghematan pembelian 1% ekivalen dengan peningkatan penjualan sebesar 10%.
  3. Pembelian dan suplai material mempunyai kaitan dengan semua aspek operasi manajemen.
  4. Bagaimana cara sebuah perusahaan dalam mengendalikan strategi pengadaan barangnya akan mempunyai pengaruh langsung terhadap bagaimana perusahaan tersebut menjalankan bisnisnya. Pembelian yang baik juga perlu menjadi perhatian untuk organisasi-organisasi non profit dan pemerintah. Berbagai tekanan yang berkaitan dengan kurangnya dana yang tersedia dan besarnya biaya, mendorong organisasi-organisasi tersebut untuk beroperasi seefisien mungkin dengan biaya seminimum mungkin.

Dengan demikian, apapun jenis dan ukuran perusahaannya, pembelian yang dilaksanakan dengan ekonomis dan efektif amat diperlukan dalam upaya mencapai kondisi perusahaan yang sehat karena pembelian merupakan kegiatan yang memerlukan pengerahan sumber daya dalam jumlah besar.

Tugas dan tanggung jawab fungsi pembelian. Pada dasarnya peran fungsi pembelian adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh perusahaan pada waktu, harga dan kualitas yang tepat. Assauri (1998:162) menjabarkan tanggung jawab bagian pembelian sebagai berikut:
  1. Bertanggung jawab atas pelaksanaan pembelian bahan-bahan agar rencana operasi dapat dipenuhi dan pembelian bahan-bahan tersebut pada tingkat harga dimana perusahaan akan mampu bersaing dalam memasarkan produknya.
  2. Bertanggung jawab atas usaha-usaha untuk dapat mengikuti perkembangan bahan-bahan baru yang dapat meguntungkan dalam proses produksi, perkembangan dalam desain, harga dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi produk perusahaan, harga serta desainnya.
  3. Bertanggung jawab untuk menurunkan investasi atau meningkatkan perputaran bahan, yaitu dengan penentuan skedul arus bahan ke dalam pabrik dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi.
  4. Bertanggung jawab atas kegiatan penelitian dengan menyelidiki data-data dan perkembangan pasar, perbedaaan sumber-sumber penawaran (supply) dan memeriksa pabrik suplier untuk mengetahui kapasitas dan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan perusahaan.
  5. Bertanggung jawab atas pemeliharaan bahan-bahan yang dibeli setelah diterima dan bertanggung jawab atas pengawasan persediaan.

Tugas-tugas yang dilakukan bagian pembelian dalam memenuhi tanggung jawab tersebut diatas antara lain:
  1. Melakukan pembelian bahan-bahan secara bersaing atas dasar nilai yang ditentukan tidak hanya pada harga yang tepat tetapi juga pada waktu yang tepat, serta jumlah dan mutu yang tepat pula.
  2. Membantu pemilihan bahan-bahan dengan melakukan penyelidikan.
  3. Melaksanakan usaha-usaha pencarian paling sedikit dua sumber suplai.
  4. Mempengaruhi tingkat persediaan terendah.
  5. Menjaga hubungan baik dengan suplier.
  6. Melakukan kerjasama dan koordinasi yang efektif dengan fungsi-fungsi lainnya dalam perusahaan.
  7. Meneliti keadaan perdagangan pasar.
  8. Membeli seluruh bahan-bahan dan perlengkapan yang dibutuhkan tepat waktu sehingga tidak menganggu rencana produksi dari perusahaan tersebut.
Galloway dkk. (2000:305) mendefinisikan tujuan dan tanggung jawab departemen pembelian adalah meliputi hal-hal sebagai berikut:
  1. Memilih, mengevaluasi dan mengembangkan sumber-sumber untuk bahan dan jasa yang dibutuhkan oleh perusahaan.
  2. Memelihara dan membangun relasi dengan suplier yang berkenaan dengan kualitas, pengiriman, pembayaran dan pengembalian.
  3. Mencari bahan dan produk baru, serta sumber-sumber baru untuk memperoleh bahan dan produk yang lebih baik yang mungkin bisa digunakan oleh perusahaan di masa yang akan datang.
  4. Melakukan negosiasi dan memperoleh bahan baku, peralatan, barang dan jasa pada harga yang mencerminkan the best value for money.
  5. Ikut berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas untuk reduksi biaya.
  6. Memelihara sistem komunikasi yang efektif dan melakukan konsultasi secara rutin dengan fungsi-fungsi internal.
  7. Selalu memberikan informasi mengenai biaya pembelian dan berbagai perubahan yang mungkin bisa mempengaruhi laba perusahaan dan perkembangan dimasa mendatang kepada manajemen puncak.


Pentingnya fungsi pembelian

Management audit bisa digunakan untuk mengevaluasi organisasi secara keseluruhan ataupun fungsi tertentu dalam organisasi, untuk menentukan apakah perusahaan sudah memperoleh efisiensi biaya yang maksimum dari yang telah dilaksanakan oleh fungsi tersebut selama ini. Penelitian ini menjadikan fungsi pembelian sebagai sasaran audit.

Fungsi pembelian sering dianggap sebagai bagian yang paling penting dan berpengaruh, bahkan bisa dikatakan sebagian besar proses bisnis berasal dari kegiatan pembelian. Alasan yang sangat fundamental untuk membahas fungsi pembelian ialah karena dalam bidang ini pemborosan mudah terjadi, baik karena perilaku yang disfungsional maupun karena kurangnya pengetahuan dalam berbagai aspek pembelian bahan, sarana, prasarana dan suku cadang yang diperlukan perusahaan.


Tahap-tahap dalam pembelian:

Menurut Basu Swastha dalam buku Manajemen Pemasaran Modern (1990:120) terdapat enam tahap dalam proses pembelian, antara lain:
1. Menganalisa keingina dan kebutuhan konsumen
    Yaitu penganalisaan keinginan dan kebutuhan ini ditunjukan terutama untuk mengetahui adanya keinginan  
    dan kebutuhan yang belum terpenuhi atau terpuaskan.
2. Menilai sumber-sumber
    Tahap kedua dalam proses pembelian ini sangat berkaitan dengan lamanya waktu dan jumlah uang yang 
     tersedia untuk membeli.
3. Menetapkan tujuan pembelian
    Tujuan pembelian bagi masing-masing konsumen tidak selalu sama, tergantung pada jenis produk dan 
    kebutuhannya.
4. Mengindentifikasi alternative pembelian
    Pengindentifikasian alternative pembelian tersebut tidak dapat terpisahkan dari pengaruh sumber-sumber 
    yang dimiliki yaitu waktu, uang dan informasi maupun resiko keliru dalam pemilihan.
5.Kepuasan membeli
   Dalam keputusan pembelian konsumen akan menjumpai serangkaian keputusan menyangku jenis produk, 
   merk, penjualan, kuantitas, waktu pembelian, dan cara pembayaran.
6. Perilaku setelah pembelian
    Semua tahap yang ada di dalam proses pembelian sampai dengan tahap kelima dapat membuat konsumen
    melakukan pembelian ulang atau tidak dan dapat juga mempengaruhi konsumen lain tentang produk/jasa
    yang di beli.


Tipe-tipe pembelian:

            Menurut  Buchori Alma dalam buku Manajemen Pemasaran dan Pemasaran jasa (2005:118) ada beberapa tipe pembelian yaitu sebagai berikut:

1. the decided customer : Dalam tipe ini pembeli telah mengetahui dan dapat memutuskan apa yang akan 
    dibeli
 
2. the know it all customer : Ini adalah tipe pembeli yang mengetahui segalanya, mengenai keinginan dan
    kebutuhan yang akan dibeli
 
3. the deliberate customer : Tipe pembeli yang banyak mengambil waktu untuk mempertimbangkan setiap
    pembeliannya dan menghendaki cara-cara penggunaan barang atau jasa yang akan dibelinya
 
4. the undecided customer : Tipe pembeli yang tidak dapat memutuskan ukuran dan warna dari barang
    yang dibelinya.
 
5. the talkative customer : Tipe pembeli yang senang mengobrol, tetapi tidak mengarah kepada pembelian.

6. the silent timid customer : Tipe pembeli yang merasa canggung di dalam took dan mersa takut kalau
    kekurangan pengetahuannya tentang suatu barang akan diketahui jika ia bertanya

7. the decided but mistaken customer : Tipe pembeli yang mempunyai suatu keputusan dalam pikirannya
    untuk membeli sesuatu (barang), tetapi menurut penjual pilihannya itu tidak sesuai dengan manfaat atau
    kegunaan dari barang itu

8. the I get discount customer : Tipe pembeli yang selalu menghendaki diskon atau potongan dari barang
    atau jasa yang dibelinya.

Sumber: 
Wikipedia indonesia


0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More